Contoh Cerpen Sejarah : “Ketika Matahari Terbenam”


Ketika itu, Kerajaan Sunda dipimpin Prabu Linggabuana yang memiliki putri bernama Dyah Pitaloka. Di lain pihak, Kerajaan Majapahit dipimpin Prabu Hayam Wuruk dengan didampingi Patih Gajah Mada. Hayam Wuruk meyakini bahwa leluhur Kerajaan Sunda dan Majapahit merupakan kerabat dekat. Sehingga, Hayam Wuruk ingin mengembalikan hubungan kekerabatan antara Kerajaan Sunda dan Majapahit.Untuk mewujudkan keinginannya, Hayam Wuruk berencana menikahi Putri Dyah Pitaloka. Ritual pernikahan Akan dilakukan di Majapahit, sehingga rombongan dari Kerajaan Sunda akan pergi ke Kerajaan Majapahit.

Awalnya, Prabu Linggabuana tidak setuju karena resepsi pernikahan Akan dilakukan di Kerajaan Majapahit. Namun, dengan dorongan dari pihak istana Kerajaan Sunda yang ingin mengembalikan hubungan kekerabatan antara Kerajaan Sunda dan Majapahit, Prabu Linggabuana menyetujui pernikahan tersebut. Setelah disetujui, rombongan dari Kerajaan Sunda pun berangkat menuju ke Kerajaan Majapahit.
Di tengah perjalanan, tiga orang pengawal yang merupakan sahabat karib, yaitu Astara, Antaka, dan Astana kehabisan persediaan air minum. Mereka berencana meminta izin pada pimpinan rombongan untuk meninggalkan rombongan dan menambah persediaan air minum. 
Astana, Salah satu dari tiga pengawal, meminta izin pada pimpinan rombongan.
“Tuan, persediaan air kami bertiga tinggal sedikit. Dapatkah kami meniggalkan rombongan sementara dan menambah persediaan air minum?” kata Astana.
“Baiklah, dengan satu syarat, kalian tidak hanya menambah persediaan air untuk kalian bertiga. Karena persediaan air untuk rombongan juga sudah sedikit, kalian juga harus menambah persediaan air minum untuk rombongan pula. Kalian sanggup?”jawab Pimpinan Pasukan
Astara segera menanggapi pertanyaan dari Pimpinan Rombongan, “Kami sanggup tuan. Kami Akan kembali dua hari lagi di desa Bubat dan kembali mengikuti rombongan. Bagaimana Tuan?”
“Baiklah, jangan sampai terlambat”, kata Pimpinan Rombongan.
Ketiga pengawal tersebut segera meninggalkan rombongan untuk sementara waktu. Dalam perjalanan, mereka saling bersenda gurau supaya tidak merasa kelelahan. Mereka bertiga sebenarnya adalah pengawal dengan fisik dan mental yang kuat, namun kondisi Astara sedang tidak seperti biasanya, ia mulai kelelahan.
“Antaka, apakah pemukiman terdekat masih jauh jaraknya?” tanya Astara
“Tidak, sebentar lagi sampai, aku ingat sekali tempat ini, setidaknya kita akan tiba ketika matahari terbenam,” jawab Antaka
“Antaka, dari tadi kamu bilang sebentar lagi, tapi kenyataannya masih lama,” kata Astana
“Astana, sabarlah, memangnya kamu hafal hutan ini? berapa kali kamu kesini?” tanya Antaka
“Sekarang adalah kali ketiganya aku mengunjungi hutan ini, pertama kali aku ke sini ketika awal tugas dari kerajaan,”jawab Astana
“Ya kan, baru tiga kali saja berlagak seolah sudah 30 kali. Aku sudah kesini 5 kali, jadi semua sudut hutan ini sudah aku hafal di luar kepala,” kata Antaka, bangga dengan pengalamannya
“Baiklah, berapa pun jumlah kalian mengunjungi hutan ini, yang terpenting kita segera menemukan pemukiman terdekat dan kembali bersama rombongan Putri Dyah Pitaloka,”kata Astara, menengahi.
Setelah beberapa lama berjalan, waktu semakin sore. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat.
“Bagaimana, Antaka? matahari sudah tenggelam dan kita masih belum sampai di pemukiman terdekat,” tanya Astana pada Antaka
“Tentu saja, karena tadi Astara terlalu banyak minta istirahat sehingga perjalanan semakin lama,” Antaka membela dirinya sendiri
“Baiklah, maaf jika aku menyebabkan perjalanan menjadi lambat,”kata Astara
“Tidak, Astara, kondisimu memang sedang tidak vit, jadi ini bukan sepenuhnya salahmu. Untuk Antaka, seharusnya kita lah yang harus mengutamakan keselamatan bersama, terutama Astara, bukannya menyalahkannya karena kita belum sampai ke pemukiman terdekat,”kata Astana
“Jadi, sekarang kalian menyalahkanku? baiklah, kalau seperti itu yang kalian inginkan, dari sini aku pergi duluan, besok kita bertemu kembali di sini, seperti biasa, ketika matahari terbenam,” kata Antaka sembari pergi meninggalkan Astana dan Astara. Astana berniat mencegah Antaka pergi, namun terlambat, Antaka sudah berlari melanjutkan perjalanan.
Dengan kejadian itu, mereka bertiga terbagi menjadi dua kelompok. Antaka memutuskan untuk terus berlari dan melanjutkan perjalanan walaupun hari semakin malam. Sementara itu, Astana dan Astara tidak terlalu terburu-buru, mereka istirahat setelah beberapa lama berjalan dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan besok pagi.
“Kenapa mereka tidak bisa memercayai pengalamanku menelusuri hutan ini?” tanya Antaka dalam hati pada dirinya sendiri. Ia masih terus berlari, ia ingin membuktikan, terutama pada dirinya sendiri, bahwa ia memang benar dan paham hutan ini, sehingga akan sampai ke pemukiman lebih cepat daripada kedua temannya. 
Setelah beberapa lama berlari, Antaka tiba di suatu sungai. Ia dihadapkan dua pilihan, menyusuri aliran sungai itu atau sebaliknya. Ia memutuskan untuk mengikuti aliran sungai itu. Ia percaya, setelah beberapa lama menyusuri aliran sungai, ia akan sampai di pemukiman. Ia berlari dengan penuh semangat. Sebagai pengawal tangguh, ia bisa mengabaikan kantuknya dan fokus pada tujuannya. 
Cahaya matahari terbit pada keesokan harinya membangunkan Astana dan Astara yang telah beristirahat semalam. Mereka bersyukur dibangunkan cahaya matahari sehingga dapat segera melanjutkan perjalanan. Kondisi Astara membaik, sekarang mereka kembali menjadi pengawal tangguh yang siap untuk berlari cepat menuju tujuan mereka, yakni menuju pemukiman terdekat dan kembali ke tempat kemarin ketika berpisah dengan Antaka.
Berbeda dengan Astana dan Astara yang menyambut damai matahari terbit, Antaka justru semakin panik karena matahari sudah terbit. Ia mulai merasa asing dengan hutan yang di sekelilingnya. Karena gengsi mengakui kesalahannya, ia tetap percaya pada pilihannya dan mengikuti aliran sungai. Beberapa saat kemudian,ia sampai di suatu air terjun. Pada air terjun yang cukup tinggi itu, ia dapat melihat sejauh mata memandang di depannya tanpa dihalangi pepohonan. Di saat itu pula, ia sadar bahwa ia telah salah mengambil keputusan. Di depannya, hanya hutan lebat, ia tidak melihat pemukiman warga. Dengan berat hati, ia mengakui kesalahannya. Ia balik kanan, berlari melawan aliran air sungai.
Antaka berlari menyusuri air sungai dengan arah melawan arus sungai tersebut. sekitar tengah hari, ia sampai di tempat awal ketika ia memutuskan akan berlari mengikuti atau melawan arus air sungai. Ia menyadari keputusannya kemarin untuk mengikuti arus sungai adalah keputusan tergesa-gesa dan penuh emosi, sehingga sangat tidak tepat. Sekarang, dengan pikiran lebih jernih, ia memutuskan untuk terus berlari melawan arus sungai, ia berharap nantinya kembali menemui Astara dan Astana di pemukiman, meminta maaf atas tindakannya kemarin, serta kembali bergabung dengan rombongan Kerajaan Sunda menuju Majapahit.
Setelah beberapa lama berlari, ia beristirahat di bawah suatu pohon. Pohon itu ada di samping sungai, terlihat sangat tua dan tumbuh seolah tidak pernah disentuh manusia. Sembari istirahat, Antaka sebenarnya khawatir apabila Astana dan Astara ternyata memilih tidak melanjutkan perjalanan dan tetap ada di tempat yang kemarin ditentukan sebagai titik pertemuan.  Namun, Antaka tetap bertekad terus melawan arus sungai.
Ia melanjutkan perjalanan, seperti ketika ia berlari tadi pagi, ia menemukan sesuatu yang cukup janggal. Air sungai menjadi agak keruh, terkadang bahkan berwarna kemerahan, walaupun cukup samar-samar. Ia mencoba tidak memikirkan hal itu, tetap fokus pada tujuannya. Namun, semakin ia berlari, warna kemerahan semakin sering ia temui. Ia mencoba memikirkan hal positif yang dapat menjadi penyebab hal itu, seperti perburuan antara binatang, perburuan manusia terhadap binatang, atau bahkan mungkin sebaliknya. Hal itu sangat mungkin terjadi mengingat hutan ini sangat lebat dan pastinya penuh dengan binatang buas. 
Antaka tidak berhenti berlari, perkiraannya tadi untuk menjelaskan warna kemerahan pada sungai mulai berujung keraguan, karena tidak logis apabila darah perburuan binatang terus bermunculan di setiap bagian sungai yang ia lewati, seolah ada begitu banyak binatang, atau mungkin manusia yang meninggal. Ia sangat tidak percaya pada pikirannya sendiri, hingga setelah beberapa lama berjalan, ia berhenti. Semua pertanyaan telah terjawab, semua telah menjadi jelas. 
Di depannya, rekannya dari sunda sedang berperang menghadapi suatu pasukan. Antaka tidak mengetahui pasukan dari mana yang telah menyerang rombongan kerajaannya. Ia mencari seseorang dari pihak Sunda, menanyakan apa yang telah terjadi.
“Apa yang terjadi? Siapa yang telah menyerang rombongan?” tanya Antaka
“Mereka dari Majapahit, Pasukan Patih Gajah Mada. Patih Gajah Mada mengira rombongan dari sunda berniat menguasai wilayah majapahit. Kamu Antaka, bukan? Pimpinan Pasukan meminta kamu menemuinya setelah kamu tiba di sini. Jadi, segera temui dia, ia ada di sungai bagian barat,” kata salah seorang prajurit dari Sunda.
Antaka segera menuju ke tempat yang dikatakan salah seorang prajurit tadi. Ia kemudian menemukan Pimpinan Pasukan yang sedang memberikan intruksi supaya Antaka mendekatinya. Di belakang Pimpinan Pasukan, terlihat beberapa rombongan Sunda yang telah gugur, tertutup kain seadanya. Antaka mendekat, Pimpinan Pasukan segera memberikan air ke Antaka. 
“Apa maksud air ini, Tuan?” tanya Antaka
“Air ini merupakan amanat supaya kuberikan padamu, Antaka, dari dua orang pahlawan Sunda  gugur. Mereka berhasil membagikan air kepada rombongan sehingga rombongan kita dapat bertahan sampai sekarang dikarenakan persediaan air bersih itu. Kamu pasti tahu mereka, Astara dan Astana,” Pimpinan Pasukan menjelaskan kepada Antaka.
Seketika itu, Antaka merasa tak berdaya, karena sikap bodohnya kemarin malam, ia meninggalkan mereka berdua. Antaka tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, ia perlahan membuka kain sederhana yang menutupi jenazah sahabat karibnya, Astara dan Astana. Ia yang kemarin berjanji untuk menemuinya kembali ketika matahari terbenam, kini mereka memang bertemu kembali ketika matahari terbenam, namun mereka tidak dapat saling berinteraksi lagi. Bagi Antaka, saat itu adalah peristiwa matahari terbenam paling memilukan yang pernah ia lalui.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *