Etika vs Algoritma? Dilema Etika pada Teknologi Kecerdasan Buatan

Kecerdasan buatan dipandang sebagai salah satu perkembangan terbesar dalam teknologi manusia. Dengan segala kecanggihannya, aplikasi dari kecerdasan buatan dapat memudahkan berbagai aspek dari kehidupan manusia. Namun, di sisi lain juga memunculkan berbagai kontroversi tentang dampak negatif dari teknologi tersebut. Apakah nanti manusia bisa benar-benar hidup berdampingan dengan berbagai teknologi yang berdasarkan kecerdasan virtual? Atau mungkin teknologi tersebut justru menjadi tidak terkendali dan membahayakan umat manusia? Lantas untuk menghadapinya, apakah diperlukan system etika yang jelas untuk mencegah berbagai dampak mengerikan dari teknologi tersebut?

Isu terkait etika penggunaan kecerdasan buatan menjadi penting karena isu ini berpotensi mengubah suatu sistem etika yang sudah mendasar di masyarakat. Setiap perkembangan teknologi, setiap kebijakan dari pemerintah terkait kecerdasan buatan akan memengaruhi setiap sendi kehidupan di masa depan. Lebih jauh lagi, isu ini akan memunculkan berbagai pertanyaan yang sekarang Nampak paradoksial seperti “apakah nantinya suatu mesin berbasis kecerdasan buatan akan memiliki hak layaknya seorang manusia?” .Di bidang medis, apakah manusia akan merasa nyaman apabila nantinya terdapat robot yang dengan kecerdasan buatannya memiliki program tentang emosi dan kasih sayang sehingga dapat beroperasi menggantikan dokter?

Isu ini termasuk dalam tantangan masa depan yang dapat kita kaitkan dengan vuca. Sebelumnya, mari kita mengenal vuca lebih lanjut terlebih dahulu.

Vuca mendeskripsikan sifat perubahan yang sedang dan akan dihadapi dunia. Vuca sendiri merupakan akronim dari volatility, uncertainty, complexity, ambiguity.

  • Volatility merujuk pada perubahan yang cepat, ekstrim, dan tidak stabil(cenderung fluktuatif)
  • Uncertainty merujuk pada keadaan dimana kita tidak bisa memprediksi akibat suatu hal dengan akurat dan jelas.
  • Complexity merujuk pada banyaknya factor yang berpengaruh dalam suatu permasalahan. Faktor2 tersebut saling memengaruhi dan menciptakan permasalahan yang lebih kompleks
  • Ambiguity merujuk pada keadaan dimana kita tidak bisa mengetahui permasalahan secara jelas sehingga menimbulkan banyak interpretasi yang berbeda.

Kembali kepada isu terkait etika penggunaan kecerdasan buatan, selanjutnya, kita akan menganalisis isu terkait etika penggunaan kecerdasan buatan dengan konsep vuca. Perkembangan dari kecerdasan buatan dalam beberapa decade terakhir sangat cepat dan tidak stabil. Sementara itu manusia harus dengan cepat membuat sistem regulasi yang jelas terkait etika dalam teknologi kecerdasan buatan, karena siap atau tidak siapnya sistem regulasi tersebut, kecerdasan buatan akan tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia

Berbagai usaha merumuskan sistem regulasi tersebut sangat sulit diterapkan. salah satu alasannya adalah ketidakmampuan manusia untuk menentukan atau memprediksi secara akurat masa depan dari teknologi kecerdasan buatan. Apakah nantinya manusia dapat mengendalikan sikap atau system etika dari kecerdasan buatan atau justru sebaliknya, teknologi kecerdasan buatan memunculkan entitas superpower yang membahayakan kelangsungan umat manusia.

Salah satu alasan utama kenapa umat manusia kesulitan melakukan prediksi jelas terkait teknologi kecerdasan buatan dengan jelas adalah banyaknya factor-faktor yang memengaruhi hal tersebut. Di masa depan, dilema etika dari kecerdasan intelektual tidak lagi menyangkut perkembangan teknologi manusia, melainkan harus diimbangi dengan system etika yang jelas, kebijakan politik dari pemerintah, berbagai perjanjian tentang penggunaan kecerdasan buatan untuk keperluan militer, bahkan juga terkait hal ekonomi.

Dilema terkait penggunaan kecerdasan intelektual menjadi lebih kabur atau tidak jelas apabila kita melihat beberapa contoh penerapannya. Mari kita gunakan google duplex sebagai contoh kali ini. Beberapa tahun lalu, CEO Google, Sundar Pichai menyampaikan kepada public terkait teknologi kecerdasan buatan terbarunya.

Dengan contoh tersebut, beberapa pihak akan berpikir bahwa teknologi seperti google duplex akan sangat bermanfaat bagi umat manusia. Di sisi lain, banyak orang beranggapan bahwa teknologi tersebut akan memiliki dampak negative yang jauh lebih besar, seperti misalnya peledakan jumlah penipuan, spamming, maupun penyebaran berita palsu. Keadaan ambigu tersebut mencerminkan betapa rumitnya tantangan di masa depan, salah satunya dalam hal etika terkait penggunaan kecerdasan intelektual.

Dalam kenyataannya, keempat aspek vuca tersebut sangat berkaitan. Misalnya, semakin kompleks dan labil suatu permasalahan, maka keadaan akan menjadi semakin tidak pasti serta ambigu. Dalam kasus ini, bahkan hal seperti “apakah suatu mesin di masa depan akan memiliki hak layaknya manusia” harus mulai kita pikirkan dari sekarang.

Apabila kita tidak mulai memersiapkan jawaban jawaban dari pertanyaan tersebut mulai dari sekarang, maka keadaan di masa depan akan menjadi sedemikian buruknya. Dalam setiap kondisi, pasti akan ada pihak yang berusaha untuk menyalahgunakan teknologi tersebut. Dengan demikian, setiap pemerintahan, perusahaan, organisasi, dan masyarakat harus selalu bersikap kritis terhadap teknologi tersebut sehingga segala kemungkinan terburuk terkait pengembangan kecerdasan buatan dapat diantisipasi. Atau setidaknya, sedikit kita antisipasi.

Sumber:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *